Sabtu, 03 Agustus 2019

Pengalaman Imunisasi Pertama di Surabaya

Assalamu'alaikum wr.wb para pembaca blogger /hidup segan mati tak mau/ 💕
Alhamdulillah entah angin dari mana, hari ini si pemilik blog usang ini mendapat motivasi untuk menulis kembali. Status telah berganti, dari masih sendiri 2017 sah menjadi istri, kini pun bertransformasi menjadi seorang ibuk bagi satu putri. Iya...alhamdulillah tepat Senin, 20 Mei 2019 saya melahirkan buah pernikahan kami di salah satu puskesmas milik pemerintah daerah Ngawi (kapan-kapan saya ceritain yaaa...)

Langsung aja yak saya masuk ke pokok yang harus saya bagi buat kawan semua. Bermula dari kegelisahan saya mengetik kata kunci di google /pengalaman imunisasi di Surabaya/ dengan harapan mendapat aneka informasi mulai dari waktu, prosedur, rekomendasi dan hal lain yang saya butuhkan, naas semua itu berbuah nihil dan saya hanya menjumpai aneka informasi imunisasi secara global dari laman-laman populer di jagad maya. 

Nekat dan tidak malas mencari informasi karena Almahyra (nama putri saya) mulai memasuki usia 2 bulan 10 harian yang artinya masuk masa pemberian vaksin DTP 1 dan Polio 2. Sempat saya bertanya pada satu dua rekan kerja seputar imunsasi para bayik mereka. Ada yang di dokter anak (klinik), ada yang di puskesmas, bahkan ada juga 'iseng' tanya tetangga dan dia menjawab bahwa anaknya  tidak melakukan imunisasi dasar yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan bantuan pencatatan di buku pink (Buku Kesehatan Ibu dan Anak). 

Akhirnya Selasa di penghujung bulan Juli saya sempatkan pulang mengajar untuk mendatangi Puskesmas Kenjeran Surabaya guna mencari informasi mengenai imunisasi bagi Mayra. Tidak sia-sia, sesampai di sana saya disambut tukang parkir dan diarahkan ke petugas dekat loket pendaftaran. Dibekali dengan aplikasi e-health (buatan Pemkot Surabaya) yang memudahkan akses sekaligus pendaftaran, saya mendapat informasi bahwa imunisasi di sini dilaksanakan setiap hari Rabu sesuai jam kerja layaknya kantor pada umumnya. 

Tepat, keesokan harinya seusai Mayra dimandikan lalu mengenakan baju setelan pendek (supaya mudah untuk membuka area yang hendak disuntik) tak lupa mengenakan topi khas anak-anak saya dan suami pergi ke Puskesmas Kenjeran. Sebelumnya saya telah mendaftar antrian melalui aplikasi e-health lalu mendapatkan perkiraan jam kedatangan dan kepulangan. Ini sungguh membuat waktu yang kami gunakan efektif. 

Tibalah di sana, kami langsung diarahkan petugas penjaga loket untuk menuju loket pendaftaran. Benar saja layanan yang kami dapatkan sangatlah baik. Mulanya kami diberi pertanyaan apakah si kecil memiliki BPJS, saya pun mengatakan belum. (Oh ya, upayakan saat ke sini untuk kali pertama bawalah akte kelahiran atau kartu keluarga yaaa). Akhirnya karena belum memiliki BPJS, Mahyra dikenakan administrasi masuk sebesar 5ribu rupiah. 

Kami pun diarahkan ke Poli KIA. Menunggu pun terasa menyenangkan karena si kecil benar-benar bisa diajak kompromi dalam keramaian. Si bayik tertidur pulas. Hingga tiba kami dipanggil untuk masuk. Hal pertama yang dilakukan adalah menimbang berat bayi. Alhamdulillah Mayra di bulan kedua menuju tiga imi naik menjadi 5.9 kg dari berat awal imumisasi 5 kg. Bidan pun menanyakan jadwal pemberian vaksin apakah si Mayra. Saya pun menjawab bahwa Mayra masuk usia 2 bulan 10 hari sehingga waktunya pemberian vaksin DTP 1 dan Polio 2. 

Waktu yang berdebar itu pun di mulai, saya sebagai ibuk muda jelas /deg-deg seeerrr/. Benar saja pasca disuntik vaksin paha sebelah kiri pecahlah tangisan Almahyra. Syukur saja dia anak yang kuat, tak lebih dari 20 detik tangisan itu pun berhenti. Ia pun terlihat cukup tenang dan siap dibawa pulang. Bidan memberikan resep obat yang harus dibawa pulang untuk persiapan jika Mayra panas. Bukan rahasia umum bahwa pemberian vaksin DTP tidak jarang membuat para bayik demam (saya ceritakan di /part/ selanjutnya yaaa). Saya kira saya dikenakan biaya untuk pemberian vaksin kali ini, nyatanya saya dibebaskan dari biaya pemberian vaksin dan obat. Saya hanya dikenakan biaya kunjungan pendaftaran sebesar lima ribu rupiah tadi. MasyaAllah... 

Cukup dulu yaaa... kita sambung lagi di cerita selanjutnya. Buat para ibuk perantau seperti saya, belajar jadi ibuk muda tidaklah mudah, tapi percayalah selama badan //gelem obah// insyaAllah setiap urusan kita pasti akan dipermudah. 

Terima kasih, sampai jumpa di cerita selanjutnya yaaa... semoga bermanfaat.

Sabtu, 29 September 2018

CTM: Catatan Setelah Menikah (bagian satu)




Profil Penulis
Pernikahan merupakan gambaran dinamisnya sebuah kondisi psikis seseorang. Tidak perlu mencari tafsir hingga ke ujung dunia untuk merasakan kondisi tersebut. Namun sangat diperlukan aneka ilmu untuk memahami dan mengerti gejolak-gejolak yang dirasakan pasca pernikahan terbangun. Memosisikan diri sebagai perempuan sekaligus pelaku pernikahan aneka sudut pandang subjektif mulai membubuhi setiap tema yang akan diulas. Lantas benarkah kondisi tersebut dikatakan sebuah bentuk kesalahan? Tegas menjawab tidak sepenuhnya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan the best teacher is experience. Jika ditautkan pada kondisi ini ulasan yang kemudian muncul yakni sebuah rangkaian perjalanan hidup. Ia yang dilalui adalah bentuk pembelajaran paling berharga.
Hal pertama yang harus dipahami adalah menjawab pertanyaan Siapa Aku? Deskripsikan sebanyakan mungkin tentang dirimu! Hal yang kemudian muncul adalah Akuasebelum pernikahan dan aku yang dibentuk setelah pernikahan. Adakah sosok aku yang kemudian banyak dipengaruhi oleh aneka aktivitas pasca pernikahan? Kita bebas menuliskan dan mendeskripsikan siapa diri kita sekarang. Kita seperti berbicara dengan diri sendiri. Menyampaikan kondisi terkini pada diri sendiri. Menerima setiap perubahan baik yang kita inginkan atau pun yang nyata kita benci pada diri sendiri.
Banyak cara untuk menjawab pertanyaan siapa aku? Jangan pernah menghabisi diri sendiri dengan menjawab secara tidak jujur untuk menggambarkan kondisimu saat ini. Kita membutuhkan ruang kejujuran sebagai upaya untuk mengatasi setiap masalah yang kemudian muncul saat ini. Menuliskan semua amarah pun tidak disalahkan dalam kondisi ini.
(bersambung)…

Jumat, 18 Mei 2018

Hanya Fiksi!

...Aku tak pernah memaksamu untuk selalu tinggal. Sering aku mengusirmu pergi dari segenap ingatan yang kumiliki. Hanya kusisakan satu ruang masa lalu yang di dalamnya hanya kuletakkan kepasrahan pada takdir. Aku mengusirmu jauh-jauh. Aku berlari dengan segenap masa depan yang kupilih. Aku tidak pernah membiarkanmu tinggal sedikit pun. Lalu mengapa kini bak jaring laba-laba pengabaian itu membentuk jaring yang justru membuatku hanya diam di tempat Mas? Dua puluh lima tahun berjalan, aku ingat pasti di bawah bianglala malam itu bukan semata fiksi yang kubuat sendiri untuk menyenangkan hatiku. Nyatanya aku pernah mengangan sejauh aku pernah melakukan perjalanan. Selamat malam, bolehkah aku menyapamu lagi malam ini?

Sepertinya tak pernah ada yang berbeda setiap tahunnya. Aku tak pernah bisa menyapa jika tak melalui tulisan-tulisan usang setiap malam. Sama persis dengan dua puluh lima tahun yang lalu. Kita hanya rutin mengirimkan salam selepas maghrib pada stasiun RRI Pro 2, tempat nangkringnya salam-salam rindu anak-anak muda seperti kita. Kita yang tak pernah memiliki ruang untuk berbagi cerita di dunia nyata. Hanya mengudara melalui tulisan di blog apatis atau pun suara sumbang penyiar radio kebanggaanmu. Kita hanya bisa berbalas cerita lewat tulisan-tulisan berisik yang mengusik setiap cerita di masa lalu. Benar saja, bukankah hari ini kita sedang merayakan kebahagian dengan masa depan masing-masing? 

Dalam sebuah janji yang tidak pernah tersampaikan, kita pernah mematrinya begitu dalam. Tidak ada ucapan-ucapan seremonial dua puluh lima tahun yang lalu. Kita hanya merapal sebisa kita meminta pada takdir yang akan menghampiri. Janji-janji itu kokoh terpatri dalam kala itu, terpupuk setiap masa dan menjadi keyakinan kita di masa depan. Namun, nyatanya kita tak pernah menepatinya. Kita sama-sama pergi dan menyerahkan masa depan pada setiap musim hujan yang menghampiri, pada setiap musim panas yang datang penuh harapan dan pada takdiri sesuai dengan keyakinan utuh kala itu.  Hingga pada satu titik dengan yakinnya kita memutuskan masa depan dengan orang-orang terbaik yang memiliki nyali lebih besar dari nyali kita. Aku lupa, nyatanya aku bukan hanya sekadar menyapa, melainkan sedang membuka rekaman-rekaman masa lalu yang angkuh untuk diterjemahkan. 

.....

(bersambung)

Sabtu, 12 November 2016

Penggalan Tak Utuh Tentang Bapak

...Ke manapun akhirnya muara dari jalan hidup yang kupilih, tak sedetik pun aku hendak meninggalkan Ngawi dan Indonesia...

Dua puluh tiga tahun yang lalu aku dilahirkan dari sebuah keluarga yang sederhana. Bapakku seorang guru sekolah dasar yang berjarak tempuh hampir 15 km dari rumah kami. Beliau ditempatkan di daerah yang dapat kukatakan cukup pedalaman, bagaimana tidak? Saat ku masih belum menempuh bangku sekolah dasar, aku sering diajak bapak menemaninya mengajar di sekolah dasar tersebut. Ingat betul, jalanan yang tak beraturan, lubang rusak mengkhawatirkan, seperti tak ada lagi kehidupan karena kami harus menempuh jarak yang tidak sebentar, hutan rimbun yang ketika lepas hujan dan menjelang senja amatlah menyeramkan, bapak pergi mengenakan sepeda motor vespanya. Ada satu yang sering membuatku bahagia, ketika berangkat dan pulang sekolah para murid bapak bahkan warga sekitar sekolah tempat bapak mengajar, sering memberi senyum pada kami. Aku bahagia karena itu kali pertama yang masih sangat kuingat tentang arti kebahagiaan. Aku pun masih ingat benar sekolah dasar tempat bapak mengajar tertutup oleh kebun tebu yang begitu luas. Menyamai gerbang sekolah kala itu, maklum sekolah tempat bapak mengajar tak memiliki gerbang kala itu.
Mungkin sejak itu aku memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Entah itu cita-cita terburu-buru ataukah nyata demikian. Wali kelas ketika ku kelas enam meminta semua siswa mengisi buku memori yang berisi identitas singkat, tak pelik pastilah ada cita-cita yang harus dituliskan, dengan girangnya kutulis aku ingin menjadi seorang guru. Cita-cita itu ketika ku mulai menginjak usia remaja kuanggap cita-cita yang paling spesifik di antara cita-cita temanku pada buku memori tersebut. Mayoritas mereka menuliskan ingin berguna bagi bangsa, agama dan negara. Sebuah cita-cita yang ketika ku menginjak remaja adalah kategori cita-cita paling famous atau populer, tetapi cita-cita yang kala itu bagiku paling tidak spesifik. Kuingat benar hanya satu kolom yang kosong kala itu, iya, kolom nomor telepon. Kolom itu tak kuisi gegara memang bapak dan ibuk belumlah memiliki telepon. Kuingat benar kala itu telah masuk kisaran tahun 2004, dan wartel merupakan satu-satunya tempatku untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Bapak pun tak jarang pergi ke rumah teman mengajarnya di kota, tidak hanya untuk bersilaturahim tetapi juga untuk menitip surat atau sekadar meminjam telepon rumah. Tak akan pernah habis jika kuharus menceritakan tentang bapak. Dewasa ini bapak pertama kalinya menceritakan padaku, bahwa sebenarnya tatkala ia lolos tes sebagai calon pegawai negeri sipil, bapak pernah ditawari untuk mendapatkan penempatan yang tak begitu jauh dari rumah kami, tetapi dengan syarat bapak harus membayar sekian puluh ribu rupiah untuk penempatan tersebut, tentulah bapak menolak. Bagi bapak, itu adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Jikalau mungkin tak demikian ceritanya, tentu tak akan ada cerita-cerita mengharukan dan berhikmah bagi kehidupanku. Sampai sekarang pun bapak masihlah harus kokoh untuk terus mengabdi pada sekolah dasar tersebut, aku semakin paham, ada nilai dasar yang bapak tanamkan padaku tentang berkehidupan. Kerja keras untuk mengabdi tak usai lekas. (bersambung)

Minggu, 24 Januari 2016

Titik Satu

Setengah masa yang kuhabiskan denganmu, hanya denganmu membuat hidupku lurus mengikuti arus, aku lupa tanjakan-tanjakan, aku lupa tikungan-tikungan dan aku lupa bagaimana meragukan perasaan. Setengah masa yang kujalani bersamamu, hanya bersamamu, membuat rasaku dilambung-lambung, membuat hatiku disanjung-sanjung hingga aku lupa bagaimana cara membuatku lebih bahagia. Aku bahagia bersamamu, bahagia yang akhirnya diiringi dua air mata, dari kanan yang katanya suka, dari kiri yang dimaknakan duka, bersamamu seimbang kurasa dua-duanya. Merajutnya berdua bagaimanakemudian aku bisa lupa, iya aku bisa lupa bahwa hakikatnya kita bisa kapan saja saling melupa untuk tidak lagi saling membuat bahagia, aku menemanimu menyeduh energen vanila untuk waktu yang kataku akan menutup kisah-kisah kita. 

Selamat Malam Ra, Aku tidak pernah meninggalkan, aku tidak pernah berlari, boleh kan aku mengikat mimpi-mimpiku lagi? Aku ingin menghancurkan sikap peduli,aku ingin membuang amarah, aku ingin menghabiskan sisa hari dengan kenangan-kenangan yang paling indah, iya paling indah dalam setengah masa kita yang tidak bisa dikembalikan lagi. 

Minggu, 26 Juli 2015

Kamis, 02 Juli 2015

Rabu, 17 Juni 2015

Angsle Hangat selepas Tarawih (01)


Bagi Anggun, wanita dan ketangguhan itu pasangan. Ia jelmaan pagi dan matahari, daun dan tangkai, serta kayu dan ranting. Raya pun mengungkapkan, perempuan dan mimpi itu keharusan. Ia jelmaan tekad, kekuatan dan hati, kepaduannya itu kemutlakan. Ada satu hal yang membuatku semakin tertarik, yakni saat mereka sepakat tak pantas dianggap wanita atau pun perempuan jika harus disandingkan dengan rasa mudah menyerah memerjuangkan mimpi, dan melupakan kata hati dalam setiap pengambilan keputusan.(Angsle hangat selepas tarawih. 01)

Senin, 11 Mei 2015

Soulmate :)

"Soulmate-Kahitna", ROMANTIS! sometime, memilih diam, ndengerin lagu, nyanyiin lirik LEBIH romantis ketimbang sebuah kebersamaan yang ... (isi sendiri). Semangat Berawal Pekan :)


Rabu, 06 Mei 2015

Selasa, 21 April 2015

Reminder!

Kamu mungkin sedang lupa konsep 'akumulasi kesalahan'.
Hari ini nyatanya klimaks, entah sedang sadar atau tidak, 
indikasi utamanya ketika kamu pamer-pamerkan sikap instropeksi, sikap sabar, 'yang katanya' sedang kamu lakukan, dengan percaya dirinya diumbar-umbar olehmu melalui media. Kamu pajang di setiap pesan dalam BBM, line, whatsapp, bahkan semua media sosialmu. Kamu persalahkan satu saja manusia, penghakiman sepihak, bahkan dengan santainya kamu rutinkan cercaan yang seakan kamu adalah pihak yang lemah.
Kamu sedang membuat posisimu sendiri. Kamu sedang menghimpun luka-lukamu sendiri,
kamu akan lelah, percayalah...kamu akan lelah. Tidak ada yang bisa menghentikan.
Tuhan pasti tunjukkan jalanNya padamu kawanku... Semoga segera saja.

-Malang, 21 April 2015-

Senin, 20 April 2015

Sabtu, 14 Maret 2015

Rabu, 28 Januari 2015

Melaju #01


Aku pun memilih untuk melaju. Meneruskan hidupku sendiri. Menuntaskan setiap mimpiku yang sempat terhenti. Menyambung kembali patahan-patahan rasa yang kukira tak sesuai espekstasi. Iya, aku telah memilih untuk berhenti, pelan-pelan melupa segala hal yang kau sebut memberi.

Selamat malam Ray, malam ini pertama kali kuselesaikan tulisanku kembali, tulisan yang aku sendiri tak pernah tau bernama apa dan kau sebut apa. Aku tidak sedang menuangkan perasaanku sendiri. Aku pikir kamu akan mengerti, tulisan yang tertuang tak bermakna lebih dari curahan hati perempuan yang telah gagal memahami keadaan. Iya, aku telah gagal dalam menciptakan suatu kondisi yang dapat mempertemukan nasib kebersamaan kita. Aku menyerah katamu, iya katamu aku menyerah untuk mempertahankan. Menyerah dengan segala keadaan yang tidak pernah kita temukan titik temunya. Menyerah dan memilih untuk mengakhiri tanpa belum sempat kita memulai. Sekali lagi tidak akan ada tuangan secangkir susu di pagi hari, dan tidak akan kau temui sajian selai pada roti yang katamu selalu kusisipi dengan senyum penambah rasa kasih. Hari-hariku berat, hingga aku lupa berapa takaran sambal yang kuperbolehkan jika engkau ingin memakan bakso di ujung gang rumah kita, kamu bilang ‘aku kok kepedasan sayang, kamu lupa?’, aku berkilah.

-bersambung-

Selasa, 27 Januari 2015

Senin, 25 Agustus 2014

Minggu, 24 Agustus 2014

Pagi-Pagi

‘Kamu tidak mengerti apapun tentang hidupku sekarang!’ ucap perempuan.
‘Iyakah?’ sahut lelaki.
‘Sangat mengiyakan, telah banyak yang berubah, telah banyak yang hilang, telah banyak yang terlewatkan,’ jawab perempuan.
‘Sebanyak itu?’ sahut lelaki.
‘Iya, sebanyak itu, sebanyak hari setelah aku memutuskan bersamanya, sebanyak waktu yang telah aku habiskan dengannya, sebanyak hal yang telah aku berikan padanya,!’ ucap perempuan.
‘Kamu masih sama.’ Ucap lelaki.
‘BEDA!’ sentak perempuan.
‘Kamu masih sama, kamu tidak berubah, kamu tidak kehilangan banyak hal, kamu belum melewatkan banyak hal, kamu juga sama sekali belum memberikan apapun, kamu masih utuh, dan nyatanya aku berani mengatakan semua ini, aku di hadapanmu sekarang, dan kamu tahu aku tidak bisa berbohong!’ ucap lelaki sedu.
‘Kamu akan kecewa.’ucap perempuan sedu.
‘Perkiraanmu selalu meleset, kamu bukan perempuan yang pandai menebak, Rinjani...’jawab lelaki.
‘Untuk apa pagi ini kamu di depan tempat tinggalku?’ tanya perempuan
‘Aku ingin kamu bukakan pintu, kau ajak aku masuk ke teras untuk kali pertama, kau suguhi aku segelas teh tawar dan obrolan hangat, kita berbincang tentang resolusi yang telah terlaksana, mengubah resolusi yang tertunda, memperbaharui setiap hal yang di luar rencana, hidup bersamamu membuatku mengerti arti mengejar, memahami arti membendung untuk menjaga, dan hari ini aku kembali karena aku tahu hanya bersamamu aku bisa menjalani itu semua. Aku tidak membutuhkan jawabanmu gadis penyuka bunga Matahari, penggemar keliling kota bersepeda, penggila es batu, dan yang tidak pernah sekalipun merajuk padaku,’jawab lelaki.

Pagi ini aku mengerti makna kembali. Kamu mengajarkan semua, hanya dengan ketenangan, hanya dengan kesabaran, hanya dengan memercayai dan berbaik sangka, akan datang lentera yang tepat, yang akan melenyapkan gelap, menambah resolusi terang, dan membuatmu merasa tidak pernah tidak merasa beruntung. Aku mengerti, pagiku hari ini sempurna.

Untuk cela yang kulakukan, untuk setiap hal yang hilang, terlewatkan, kamu yakinkan aku bahwa Pencipta kita Pemaaf, ‘berjalanlah terus untuk membuka pintu maafNya’. Terima kasih untuk seperempat matahari. J

Salam Hangat,
Kotaku, Dua puluh empat bulan ke delapan tahun bernama Dua ribu empat belas. (Segenap hati)

Kamis, 24 Juli 2014

Stay Or Leave?

bagi saya:
"Konsep pantangan MENIKAH antara anak nomor satu dan anak nomor tiga (JILU) dalam tradisi keluarga terasa LEBIH BERAT dibanding dengan konsep pantangan MENIKAH bagi yang berbeda keyakinan".

- Beda Keyakinan = Jika merasa keyakinan pasangan MEMANG lebih baik, masih bisa untuk berpindah untuk saling menyamakan. (walaupun tidak semudah itu.
- Konsep Jilu = Manusia tidak bisa memilih kapan ia dilahirkan, konsep ini hanya akan membuatmu bilang 'STAY OR LEAVE' -
(perenenungan enam tahun)

Minggu, 29 Juni 2014

CERITA PERTAMA RAMADHAN


Yang ditunggu akhirnya datang, di hati terasa riang.
Marhaban ya Ramdhan, dari semua bulan kamu tetap paling diIdamkan.
Selamat malam teman – teman. Terkhusus untuk beberapa nama yang meminta saya menulis kembali di blog newbie ini, saya akan menurutinya. Alhamdulillah leganya hati walau sebenarnya dua tanggung jawab menanti besok sore, yakni Revisi Sosiologi Sastra dan Analisis Wacana (cerita berjuang sampai akhir) padahal senin pagi sudah harus sampai di Kominfo Provinsi (A. Yani Surabaya). Yapsss! Lebih kurang sebulan saya akan menjadi pendatang di Kota Pahlawan (katanya) Surabaya. Berbicara tentang Surabaya saya jadi ingat kisah Suro & Boyo serta Kalimas yang saya baca waktu duduk di bangku SD (tepatnya setelah saya diberi buku CERITA RAKYAT yang masih ada lebel RAMAYANA setelah mendapat Juara 1 oleh Guru IPS saya, namanya Pak Nurul Hakim). Saya suka membaca cerita rakyat sejak kecil. Eitsss...KEMBALI FOKUS yakkk! Surabaya merupakan salah satu kota PALING berkesan, tepatnya sekitar tahun 2009, saat itu saya NEKAD mengikuti MEDSPIN di Universitas Airlangga (saya bela – belain berangkat setelah pulang sekolah langsung ke Surabaya, padahal saya ndak tahu Surabaya itu di mana), saya hanya berpikir Surabaya itu dekat dengan Caruban – Madiun. Usut punya usut dengan restu dari pembimbing karya tulis dan teman –teman tim, cusss saya berangkat ke Surabaya. Kisah pun di mulai yang intinya saya diperebutkan oleh seorang bapak - bapak dan ibu – ibu, niatnya mereka ingin menolong saya, karena saya seperti orang hilang di dalam bis, maklum hp saya yang Sony E J210i lowbat dan off. Singkat kisah, akhirnya saya memutuskan memilih ibu – ibu, lalu saya diminta beliau membawakan kerupuk sekarung dan tanpa disangka beliau memberi saya makan (untuk ibu – ibu yang baik, salah satu penjual lalapan di Pasar Turi, terima kasih banyak atas kebaikannya dahulu). Sebenarnya LEBIH mendramatisir, tapi singkat saja akhirnya saya dijemput oleh 4 mahasiswa Kedokteran Unair (mereka sangat baik, saya ditraktir makan lagi, bayangkan! Untuk kak Berlin, kak Andra, kak Didin, dan kak Adrian, terima kasih dan Selamat menjadi dokter muda semangat pula menebar manfaat).
Surabaya selalu memberi kesannya. Januari 2010 saya pun mendapat kesempatan mengunjungi Kampus C Universitas Airlangga untuk acara Games Ilmiah di Fsaintek. Kebersamaan bersama Tri Rahma Dina Yanti, Wilujeng Fitri, Maria Ulfa dkk menjadi momen yang tidak terlupakan. Bareng – bareng nginep di kontrakan yang ndak jelas tapi nyaman, nyobain lalapan di pinggir kali yang puedes rasanya (saya cocok), hingga bertemu dengan kawan – kawan baru, bahkan sampai hari ini saya masih berkomunikasi dengan mereka. Semua kenangan itu terpatri, mengalahkan rasa ingin menang dalam sebuah kompetisi. Perlu saya ceritakan bahwa dari semua kompetisi yang saya ikuti yakni LKTI di Unesa, UM, Unair bahkan Games Ilmiah tak satupun yang dapat saya genggam kemenangannya. Tetapi lucu, Tuhan tidak memberikan saya rasa sedih, saya dibuatNya riang dan senang, karena pengalaman dan kebersamaan tak pernah luput dari Ingatan. Mungkin memang saat itu saya belum mampu menjadi yang paling beruntung dari semua peserta, saya tetap menyukai kegiatan menulis, saya menyukai ribetnya membuat karya tulis, dari sini saya tahu rasanya berjuang, hingga Allah mempertemukan saya dengan Universitas Brawijaya. Pendapat saya tentang Surabaya pun berubah, dari yang antipati karena pikiran Surabaya itu panas, Surabaya itu banyak comberannya, Surabaya itu macet, Airnya ndak seger buat mandi, menjadi Surabaya bagian dari hidup saya untuk JULI ini, dan Ramadhan mempertemukan kami.  Semoga magang di Kominfo nanti dapat bekerja dengan optimal, tidak mengecewakan dan berkah maksimal. Aminn...
Kisah pun berlanjut apa sih yang sudah dipersiapkan untuk Ramdhan tahun ini? Jawabannya adalah poin – poin di bawah ini:
1. Lebih tepat waktu 5 fardhu, dluha, tahajud dan tilawahnya (target tilawah)
2. Tambah satu juz...lagi hafalannya (syimingit!!!)
3. Kurangi berat badan (anjuran ibuk dan bapak, semangat olahraganya –LOOO--)
4. Optimal asah potensi saat magang, pasca magang makin mantap arahan berkarir.
5. Optimalkan presentasi monev PKM dan siap – siap laporan akhir (harus upload TEPAT WAKTU, salah satunya agar beruntung ‘dapat undangan itu – tu J
6. Semangat sebar PROPOSAL dan saling nyemangatin TIM, kumpulkan dana agar dapat menghadiri Conference Competition di sebuah kota yang berada di Benua LAIN serta bersalju itu. Untuk poin keenam ini salah satu hal yang cukup TERBERAT.  ‘Tuhan Yakin Kamu Mampu’ (katanya).
7. Menyempatkan diri minimal sekali buka dan sekali sahur bersama keluarga Ngawi.
8. Lebarkan agenda ‘Memaafkan’, tiba – tiba atas serangkain hal yang saya jumpai dan rasakan selama 11 bulan, selayaknya luasnya maaf dalam diri selalu diberikan pada yang seharusnya menerima maaf walaupun tanpa harus berujar (maafkan saya ya...).
9. Tanamkan kegiatan ‘Menjauhi dan meningkatkan’. tiba – tiba poin ke sembilan ini adalah poin yang menjadi tema dalam Ramadhan ini, dari segala kekhilafan, kesalahan, kekeliruan, rasanya saya harus beranjak, saya harus bergerak, dan saya tidak akan membiarkan segala penghambat menghalangi IMPIAN – IMPIAN saya.
10. Nyalakan Semangat. Satu kata paling bermakna yang membuat saya masih bertahan hingga hari ini. Semangat karena Allah masih berikan segala karuniaNya, karena ibuk bapak berikan restunya, karena teman – teman berikan cerita hidupnya, karena saya tahu bahwa hidup saya tidak JALAN DI TEMPAT, dan karena saya tahu bahwa hidup saya bukan untuk diri saya sendiri.
Yeee...alhamdulillah 10 target menjadi incaran utama, mohon doanya juga ya J xie xie.
            Mengencangkan CITA – CITAmungkin hal itulah yang ingin saya awali dalam Ramadhan ini, beranjak dari ketidakbenaran, menjauhi hal yang merugikan, mendekati kembali cara terbaik untuk dapat memenangkan momen istimewa ini. TIDAK PRAKTIS! Saya tahu itu, bahkan saya mengerti, tapi entahlah hati mendorong saya untuk mengencangkan mimpi. Saya pernah bertemu dan saling bercerita dengan seseorang sore itu, tepat di bawah menara Masjid terbesar di Surabaya, kira – kira begini inti percakapan kami ‘kami harus mencari ALASAN TERBESAR mengapa kami harus bertahan hidup, dan kami harus mencari CARA TERHEBAT agar kami tidak sia – sia dalam menghabiskan hidup’. Sekian dulu ya cerita – ceritanya, nanti akan disambung lagi. Saya akan menjadi nahkoda yang lebih kuat agar saya dapat melabuh dengan tepat, SEMANGAT!

1 Ramadhan, 01: 06
(Salam hangat untuk keluarga, selamat menempuh ibadah puasa untuk teman – teman, dan semangat kerja praktik untuk yang setiap hari harus mematuhi K3 'pintar - pintar adaptasi ya...')
  

Kamis, 12 Juni 2014