Rabu, 14 Agustus 2013

Iya, Kami Berteman

Pegang Tiket Mallabar, rasanya langsung keingat Malang. Wah...ndak terasa beberapa hari lagi saya akan memasuki semester lima. Semester yang katanya sudah ndak bisa dibuat santai lagi. Semester yang katanya kudu wajib dan amat sangat serius buat lebih memperdalam ilmu akademiknya (padahal juga harusnya dari semester satu)*eaaa... Semester lima kali ini akan diawali oleh rasa terima kasih kepada teman-teman yang cukup memberi saya pengaruh dalam meniti baik awal dan pertengahan kehidupan di kampus. Beberapa garis besar akan saya ceritakan di sini.

Entah mengapa saya merasa belum dapat mengatakan mereka sebagai sahabat, bagi saya ini adalah pertemanan yang lebih. Iya lebih baik *mungkin kami bersahabat. Namun istilah teman di telinga saya lebih populer ketimbang sahabat, *bukan trauma sama kata sahabatan looo. Kata teman mengidentikan bahwa kita sudah menjalaninya lebih, kita sama halnya berkawan, berpacu, dan kami pernah menjalani asam manis bersama. Menjadi teman yang baik tidaklah selalu menjadi teman yang akan memberikan rasa nyaman bagi kita, tetapi juga rasa ingin berkembang, setiap hari, dan setiap waktu.

Saya biasa memanggilnya kak Riza. Berteman dari hasil ketidaksengajaan saat kami hendak lulus dari putih abu-abu. Laki-laki ini merupakan salah satu teman pertama saya saat saya mulai berjuang di kampus biru. Kami berbeda program studi, fakultas, asal daerah, asal sekolah dan mungkin WATAK. Ia berasal dari keteknikan pertanian (mupeng banget pengen disebut anak Teknik, jelas-jelas fakultasnya Teknologi Pertanian, tapi ya biar senang saya anggap IYA). Ia merupakan mahasiswa semester lima (sama) yang berasal dari pulau seberang satu provinsi Jawa Timur. Tabiatnya halus kalau pas lagi halus, tapi tetap halus walaupun kadang ndak sadar dalam keadaan yang terjepit. Iya, dia merupakan satu sosok yang tutur katanya sering saya artikan mengglobal. Kebiasaan baik dari dia yang ditularkan kepada saya adalah sifat semangat dan mau belajar. Ia merupakan penyuka musik pagi Bondan Prakoso dan mulai aktif di beberapa kegiatan intra dan ekstra kampus ini. Pertemanan kami fluktuatif, tapi bisa dikatakan paling konstan. Mengapa? Karena dalam pertemanan kami, kami terbiasa ingin melakukan suatu aktivitas yang saling mendorong dan menyemangati. Laki-laki inilah yang pertama kali mengantarkan saya ke desa Pengabdian Masyarakat dengan rute yang amat luar biasa (pernah sadar kita pernah jatuh), laki-laki yang tidak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun setiap maret (pernah membuat saya terharu pada tahun 2012, dan maaf saya sempat mengecawakan pada tahun 2012) pula, laki-laki yang bersamanya saya banyak menulis mimpi-mimpi (mimpi berprestasi *tanda petik), dan masih sederet bahkan buanyak lagi hal yang belum bisa saya ceritakan tentang dia. Satu mimpi kami yang mungkin sempat terkendala adalah menulis buku bersama. Hal inilah yang menjadi candu bagi saya untuk selalu mengeksplorasi semangat menulis saya, Mungkin langkah awal kami serta hadiah pertama kami di tahun 2013 adalah keberangkatan kami mengikuti Mipa Untuk Negeri Konferensi Ilmuwan Muda Indonesia di Universitas Indonesia (Ndak nyangka abstrak kita lolos, maaf belum bisa menjadi satu tim). Itulah cerita singkat tentang salah satu teman saya yang cukup berpengaruh hingga saya akan memasuki semester lima (Terima kasih untuk papinonya, kometnya, cerita-ceritanya, dan semoga setruman positif selalu mewarnai perjalanan kita). Kak Riza merupakan salah satu teman saya yang cukup membuat saya profesional dalam berteman dengan laki-laki. Mengajak saya realistis, menjadi kakak dan menjadi *mungkin sahabat.

Saya biasa memanggilnya Ika. Kami satu program studi satu angkatan. Jarang komunikasi, sekali komunikasi pasti tentang kegiatan. Perempuan dari kota lamongan ini merupakan teman yang paling bisa membuat saya nyaman. Kadang bersifat sejenis emak-emak karena sering ngomelin saya. Iya dia merupakan mahasiswi yang cukup sering ngomelin saya karena sifat terlambat saya datang ke kampus (padahal ndak setiap hari), karena saya sering terlambat ngumpulin tugas, dan karena saya yang katanya terlalu memikirkan non akademik (tapi GPA saya masih cumlaude lo ik). Kami mulai intens berteman saat semester empat kemarin (ya namanya adaptasi dan penyesuaian, pasti kita akan menemukan yang paling nyaman). Tiba-tiba saja kami disatukan dalam himpunan, dalam lembaga riset fakultas, dan dalam hal apapun saya sering merekomendasikan dia dalam kegiatan yang mungkin saya butuh partner dalam melakukan. Ia merupakan salah satu mahasiswa yang sering mendapat pujian dari salah satu dosen favorit saya, iya bapak Wahyu Widodo. Pak Wahyu sering memuji cara kecakapan dan analisis penelitian Ika. Hal itulah yang kadang membuat saya berkaca sekaligu berkaca-kaca, wah...Subhanallah ya, luar biasa. Memang kalau dipikir-pikir kita memiliki rutinitas yang berbeda, ia lebih sering aktif dalam kegiatan akademik, sedangkan saya non akademik (tapi puji syukur IPK kami tetap dan akan selalu Cumlaude, insyaAllah). Perempuan ini di mata saya merupakan mahasiswa yang sangat rajin, telaten dan mau belajar. Itulah yang membuat saya kadang berpikir bahwa saya sangat cocok berteman dengan karakteristik perempuan semacam ini. Mengatakan saya salah di saat memang saya salah, tidak akan membela saya jika saya memang sangat bandel terpeleset kuliah, dan yang akan selalu saling bertanya jika kami merasa ada hal yang kami pertanyakan. Kami suka bertanya, karena dengan bertanya kami akan saling tahu. Berbeda dengan kak Riza, Ika adalah teman yang sering saya jadikan rujukan untuk kegiatan akademik. Adanya dia membantu kehidupan saya menjadi lebih baik. Menata dan selalu menaa bahwa LEBIH BAIK BERTINDAK DARI PADA BERBICARA. Saya masih ingat kita sama-sama bermimpi naik pesawat bukan tahun ini? Semoga ada kompetisi yang akan mengantarkan kita. Selamat datang rival semester lima.

Itulah dua teman baik saya yang cukup memberi pengaruh bagi kehidupan saya. Mereka adalah salah satu harta terbesar bagi saya *harta karun? LEBIH DARI HARTA KARUN. Melalui mereka saya belajar untuk berteman dengan lebih baik, menempatkan setiap cerita pada posisinya. Masuk ke dalam kehidupannya, dan menjadi bagian yang akan mereka datangi ketika rasa membutuhkan itu datang. Tidak perlu mengatakan saling menyayangi, karena sikap lebih mengatakan itu. Saat ini kami berteman, dalam hati kami berteman, dan dalam pengasihan Tuhan kami selalu mengharap kebaikan. Siapakah teman-teman terbaik dan berpengaruh dalam kehidupan saya? Tunggu ya... saya akan menceritakannya kembali nanti. Selamat datang di semester lima.

Jumat, 19 Juli 2013

Terima Kasih (Calon Engineer Gadjah Mada)

Lagi-lagi kamu yang membuatku merasa tersanjung, mengirimi aktivitas biasa, hanya menyukai status, cukup sering memberi komentar dan mengirimiku pesan. Kamu seakan menjadi teman yang menyenangkan, walaupun kita memang teman. Iya, teman nyata. Kutahui namamu, perjalananmu dari semasa kita putih abu-abu hingga sekarang kamu bersama patih Gadjah Mada dan aku bersama Raja Brawijaya.

Lagi-lagi kamu. Iya, kamu yang akhir-akhir ini menawarkan setiap dimensi cerita yang berbeda. Kamu yang kutahui juga berbeda, entah berbeda atau entah aku yang kurang memperhatikan ini semua. Satu hal yang jelas, semua ini menyenangkan. Iya berteman dengan seseorang yang menyenangkan, tanpa tuntutan dan merasa bebas terpantau.

Lagi-lagi kamu. Bukan teman baru, hanya saja kamu yang sedang mengajariku dan menempaku agar tak menjadi perempuan yang mudah merasa tersanjung. Nyatanya kamu berhasil, iya, kamu berhasil, berpuluh-puluh kali kamu melakukan hal-hal yang sederhana, dan baru kali pertama bukan aku mengirimu sebuah tulisan ini. Iya tulisan ucapan terima kasih karena menjadi teman yang menyenangkan.

Berjalan, melangkah, dan kita berbeda. Berbeda banyak hal dalam sedikit versi. Ini bukan tentang mayoritas keras kepalanya anak teknik yang cenderung tegas, ini tentang warna-warna yang belum mampu aku satukan. Harusnya aku bisa membuat satu pandangan lebih indah dari semua ini. Kamu bukan kunang-kunang, kamu punya mimpi tinggi sama seperti aku. TAPI MIMPI KITA BEDA, bukankah begitu?

Hei kamu, iya kamu. Siapa lagi? Terima kasih sudah berhari-hari menjadi teman yang kasinya mampu terasa walau jauh. Bukan tentang cerita lain, satu bagian ini hanya untuk kamu. Menyenangkan itu bukan hanya ketika bisa berbagi, bukan melulu soal hidupku. Kamu itu juga pelanginya, iya... Pelangi yang saat ini membuat warna-warni semakin nyata. Masuk untuk menyelesaikan sarjana pada tahun yang sama, ITU YANG KUTAHU PASTI tentang kamu, aku belum tahu yang lain. 

Apa Kabar Sipit? Selamat Pagi!

Beratus-ratus hari kamu menemani
Beratus-ratus hari kamu belajar mengerti
Beratus-ratus hari kamu mengajakku bermimpi
Beratus-ratus hari, dan penantian itu hingga kini.

Apa kabar sipit? Apa kabar bawel? AKU MERASA LEBIH BAIK DENGAN KEDIPAN MATA SIPITMU. Aku tak pernah lagi berani menghitung berapa ratus harikah hari ini pasca kabar berhentak yang pernah terjadi di kotamu saat itu. Iya, saat kamu nyatakan padaku satu kabar yang TIDAK BISA MEMBUATKU MENETESKAN AIR MATA, tetapi mengubah banyak hal dalam hidupku. Aku masih melangkah lebih ingin maju ketika kusimak apa yang kamu bicarakan.

You look more beautifull than yesterday. Terntu kamu masih ingat kalimat tersebut bukan? Kamu tidak pernah membuat diriku tersanjung, iya, karena aku telah menyiapkan penangkal sejak awal perjumpaan itu. Aku merasa menjadi wanita yang lebih bisa menghargai setiap kalimat yang kau utarakan, aku merasa lebih baik ketika aku tidak mudah GR atas setiap tindak lakumu, dan SAAT ITU MERUPAKAN FASE PALING NYAMAN, iya, di mana kamu menyanjung dan aku hanya mengucapkan terima kasih. ITU SEDERHANA.

Melangkah dengan pasti dan semakin berani bermimpi. ITU yang selalu kamu bisikan beratus-ratus hari dalam kebersamaan kita. KAMU TIDAK PERNAH MEMBUATNYA DATAR TANPA CERITA. Ketika rasa sakit itu datang bersama, ketika tertawa lepas itu selalu kamu ciptakan, dan ketika kamu selalu mengajariku mandiri dengan selalu membuatku membuka pintu mobilmu dengan sendirinya. SEMUA ITU SEDERHANA, dan SEMUA ITU MEMBEKAS. Entah berapa ratus bahkan ribu hari lagi semua kisah ini akan membentuk satu cerita yang utuh, iya, cerita yang akan selalu menjadi ingatan-ingatan pahit menjadi manis, gengsi menjadi tertawa lepas, dan selalu menjadi cerita-cerita tersembunyi dalam hari-hari kita.

KEBERSAMAAN DAN KETIDAKBERSAMAAN KITA HARI INI ADALAH PILIHAN. Secerdas kita memilih, KUASA TUHAN AKAN MENUNJUKKAN AKHIRNYA. Aku masih percaya, kedipan mata sipitmu itu akan setiap pagi menghiasi coretan-coretan mimpi yang menyatu, kedipan mata sipitmu itu akan bersua dengan mata belok dan hidung mekrok. Sering semua ini tak jarang membuatku merasa bahwa bersama dengan seseorang yang kamu sebut Mbulet adalah cara menghantarkan kasih yang begitu sederhana. BERATUS-RATUS HARI KITA SEMAKIN BERMAIN TEKA-TEKI, selalu mengartikan sendiri bagaimana sikap yang saling kita tunjukan, dan menebak sendiri berapa ribu hari semuanya akan menepi. TUHAN MAHA PEMBOLAK-BALIKAN HATI, begitu pula hati kita bukan? Mungkin rindu kita berbalut malu, kamu terlihat semakin sipit. Selamat pagi, mungkin Mataram akan membuatmu melihatku menangis lagi...