Sabtu, 03 Agustus 2019

Pengalaman Imunisasi Pertama di Surabaya

Assalamu'alaikum wr.wb para pembaca blogger /hidup segan mati tak mau/ 💕
Alhamdulillah entah angin dari mana, hari ini si pemilik blog usang ini mendapat motivasi untuk menulis kembali. Status telah berganti, dari masih sendiri 2017 sah menjadi istri, kini pun bertransformasi menjadi seorang ibuk bagi satu putri. Iya...alhamdulillah tepat Senin, 20 Mei 2019 saya melahirkan buah pernikahan kami di salah satu puskesmas milik pemerintah daerah Ngawi (kapan-kapan saya ceritain yaaa...)

Langsung aja yak saya masuk ke pokok yang harus saya bagi buat kawan semua. Bermula dari kegelisahan saya mengetik kata kunci di google /pengalaman imunisasi di Surabaya/ dengan harapan mendapat aneka informasi mulai dari waktu, prosedur, rekomendasi dan hal lain yang saya butuhkan, naas semua itu berbuah nihil dan saya hanya menjumpai aneka informasi imunisasi secara global dari laman-laman populer di jagad maya. 

Nekat dan tidak malas mencari informasi karena Almahyra (nama putri saya) mulai memasuki usia 2 bulan 10 harian yang artinya masuk masa pemberian vaksin DTP 1 dan Polio 2. Sempat saya bertanya pada satu dua rekan kerja seputar imunsasi para bayik mereka. Ada yang di dokter anak (klinik), ada yang di puskesmas, bahkan ada juga 'iseng' tanya tetangga dan dia menjawab bahwa anaknya  tidak melakukan imunisasi dasar yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan bantuan pencatatan di buku pink (Buku Kesehatan Ibu dan Anak). 

Akhirnya Selasa di penghujung bulan Juli saya sempatkan pulang mengajar untuk mendatangi Puskesmas Kenjeran Surabaya guna mencari informasi mengenai imunisasi bagi Mayra. Tidak sia-sia, sesampai di sana saya disambut tukang parkir dan diarahkan ke petugas dekat loket pendaftaran. Dibekali dengan aplikasi e-health (buatan Pemkot Surabaya) yang memudahkan akses sekaligus pendaftaran, saya mendapat informasi bahwa imunisasi di sini dilaksanakan setiap hari Rabu sesuai jam kerja layaknya kantor pada umumnya. 

Tepat, keesokan harinya seusai Mayra dimandikan lalu mengenakan baju setelan pendek (supaya mudah untuk membuka area yang hendak disuntik) tak lupa mengenakan topi khas anak-anak saya dan suami pergi ke Puskesmas Kenjeran. Sebelumnya saya telah mendaftar antrian melalui aplikasi e-health lalu mendapatkan perkiraan jam kedatangan dan kepulangan. Ini sungguh membuat waktu yang kami gunakan efektif. 

Tibalah di sana, kami langsung diarahkan petugas penjaga loket untuk menuju loket pendaftaran. Benar saja layanan yang kami dapatkan sangatlah baik. Mulanya kami diberi pertanyaan apakah si kecil memiliki BPJS, saya pun mengatakan belum. (Oh ya, upayakan saat ke sini untuk kali pertama bawalah akte kelahiran atau kartu keluarga yaaa). Akhirnya karena belum memiliki BPJS, Mahyra dikenakan administrasi masuk sebesar 5ribu rupiah. 

Kami pun diarahkan ke Poli KIA. Menunggu pun terasa menyenangkan karena si kecil benar-benar bisa diajak kompromi dalam keramaian. Si bayik tertidur pulas. Hingga tiba kami dipanggil untuk masuk. Hal pertama yang dilakukan adalah menimbang berat bayi. Alhamdulillah Mayra di bulan kedua menuju tiga imi naik menjadi 5.9 kg dari berat awal imumisasi 5 kg. Bidan pun menanyakan jadwal pemberian vaksin apakah si Mayra. Saya pun menjawab bahwa Mayra masuk usia 2 bulan 10 hari sehingga waktunya pemberian vaksin DTP 1 dan Polio 2. 

Waktu yang berdebar itu pun di mulai, saya sebagai ibuk muda jelas /deg-deg seeerrr/. Benar saja pasca disuntik vaksin paha sebelah kiri pecahlah tangisan Almahyra. Syukur saja dia anak yang kuat, tak lebih dari 20 detik tangisan itu pun berhenti. Ia pun terlihat cukup tenang dan siap dibawa pulang. Bidan memberikan resep obat yang harus dibawa pulang untuk persiapan jika Mayra panas. Bukan rahasia umum bahwa pemberian vaksin DTP tidak jarang membuat para bayik demam (saya ceritakan di /part/ selanjutnya yaaa). Saya kira saya dikenakan biaya untuk pemberian vaksin kali ini, nyatanya saya dibebaskan dari biaya pemberian vaksin dan obat. Saya hanya dikenakan biaya kunjungan pendaftaran sebesar lima ribu rupiah tadi. MasyaAllah... 

Cukup dulu yaaa... kita sambung lagi di cerita selanjutnya. Buat para ibuk perantau seperti saya, belajar jadi ibuk muda tidaklah mudah, tapi percayalah selama badan //gelem obah// insyaAllah setiap urusan kita pasti akan dipermudah. 

Terima kasih, sampai jumpa di cerita selanjutnya yaaa... semoga bermanfaat.

Sabtu, 29 September 2018

CTM: Catatan Setelah Menikah (bagian satu)




Profil Penulis
Pernikahan merupakan gambaran dinamisnya sebuah kondisi psikis seseorang. Tidak perlu mencari tafsir hingga ke ujung dunia untuk merasakan kondisi tersebut. Namun sangat diperlukan aneka ilmu untuk memahami dan mengerti gejolak-gejolak yang dirasakan pasca pernikahan terbangun. Memosisikan diri sebagai perempuan sekaligus pelaku pernikahan aneka sudut pandang subjektif mulai membubuhi setiap tema yang akan diulas. Lantas benarkah kondisi tersebut dikatakan sebuah bentuk kesalahan? Tegas menjawab tidak sepenuhnya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan the best teacher is experience. Jika ditautkan pada kondisi ini ulasan yang kemudian muncul yakni sebuah rangkaian perjalanan hidup. Ia yang dilalui adalah bentuk pembelajaran paling berharga.
Hal pertama yang harus dipahami adalah menjawab pertanyaan Siapa Aku? Deskripsikan sebanyakan mungkin tentang dirimu! Hal yang kemudian muncul adalah Akuasebelum pernikahan dan aku yang dibentuk setelah pernikahan. Adakah sosok aku yang kemudian banyak dipengaruhi oleh aneka aktivitas pasca pernikahan? Kita bebas menuliskan dan mendeskripsikan siapa diri kita sekarang. Kita seperti berbicara dengan diri sendiri. Menyampaikan kondisi terkini pada diri sendiri. Menerima setiap perubahan baik yang kita inginkan atau pun yang nyata kita benci pada diri sendiri.
Banyak cara untuk menjawab pertanyaan siapa aku? Jangan pernah menghabisi diri sendiri dengan menjawab secara tidak jujur untuk menggambarkan kondisimu saat ini. Kita membutuhkan ruang kejujuran sebagai upaya untuk mengatasi setiap masalah yang kemudian muncul saat ini. Menuliskan semua amarah pun tidak disalahkan dalam kondisi ini.
(bersambung)…

Jumat, 18 Mei 2018

Hanya Fiksi!

...Aku tak pernah memaksamu untuk selalu tinggal. Sering aku mengusirmu pergi dari segenap ingatan yang kumiliki. Hanya kusisakan satu ruang masa lalu yang di dalamnya hanya kuletakkan kepasrahan pada takdir. Aku mengusirmu jauh-jauh. Aku berlari dengan segenap masa depan yang kupilih. Aku tidak pernah membiarkanmu tinggal sedikit pun. Lalu mengapa kini bak jaring laba-laba pengabaian itu membentuk jaring yang justru membuatku hanya diam di tempat Mas? Dua puluh lima tahun berjalan, aku ingat pasti di bawah bianglala malam itu bukan semata fiksi yang kubuat sendiri untuk menyenangkan hatiku. Nyatanya aku pernah mengangan sejauh aku pernah melakukan perjalanan. Selamat malam, bolehkah aku menyapamu lagi malam ini?

Sepertinya tak pernah ada yang berbeda setiap tahunnya. Aku tak pernah bisa menyapa jika tak melalui tulisan-tulisan usang setiap malam. Sama persis dengan dua puluh lima tahun yang lalu. Kita hanya rutin mengirimkan salam selepas maghrib pada stasiun RRI Pro 2, tempat nangkringnya salam-salam rindu anak-anak muda seperti kita. Kita yang tak pernah memiliki ruang untuk berbagi cerita di dunia nyata. Hanya mengudara melalui tulisan di blog apatis atau pun suara sumbang penyiar radio kebanggaanmu. Kita hanya bisa berbalas cerita lewat tulisan-tulisan berisik yang mengusik setiap cerita di masa lalu. Benar saja, bukankah hari ini kita sedang merayakan kebahagian dengan masa depan masing-masing? 

Dalam sebuah janji yang tidak pernah tersampaikan, kita pernah mematrinya begitu dalam. Tidak ada ucapan-ucapan seremonial dua puluh lima tahun yang lalu. Kita hanya merapal sebisa kita meminta pada takdir yang akan menghampiri. Janji-janji itu kokoh terpatri dalam kala itu, terpupuk setiap masa dan menjadi keyakinan kita di masa depan. Namun, nyatanya kita tak pernah menepatinya. Kita sama-sama pergi dan menyerahkan masa depan pada setiap musim hujan yang menghampiri, pada setiap musim panas yang datang penuh harapan dan pada takdiri sesuai dengan keyakinan utuh kala itu.  Hingga pada satu titik dengan yakinnya kita memutuskan masa depan dengan orang-orang terbaik yang memiliki nyali lebih besar dari nyali kita. Aku lupa, nyatanya aku bukan hanya sekadar menyapa, melainkan sedang membuka rekaman-rekaman masa lalu yang angkuh untuk diterjemahkan. 

.....

(bersambung)